TERSTRUKTUR
II
Pembelajaran
Berbasis Kompetensi Dan Strategi pembelajarab Berbasis Kontekstual
Mata
Kuliah Belajar dan Pembelajaran PKn
DOSEN PENGAMPU
AWT.
Eko Rasputro, S.Pd. M.Pd.
DISUSUN
OLEH :
Shinta
setyo widianti
133196
SEKOLAH
TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP)
JOMBANG
2013
Puji syukur kami ucapkan kepada Allah
Swt yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga saya dapat menyusun
makalah bertema Pembelajaran
Berbasis Kompetensi Dan Strategi pembelajarab Berbasis Kontekstual.
Penyusunan
makalah tersebut dapat selesai, tidak terlepas dari bimbingan dosen mata kuliah
Belajar dan Pembelajaran PKn yaitu Bpk. AWT.
Eko Rasputro, S.Pd. M.Pd. terima kasih kepada dosen mata kuliah Belajar dan Pembelajaran PKn Saya menyadari
bahwa tak ada gading yang tak retak, begitu pula makalah tersebut masih jauh
dari kesempurnaan. Untuk itu, kritikan dan saran dari Bapak Dosen yang bersifat
membangun sangat saya harapkan. Atas kritikan dan saran, saya mengucapkan
terima kasih.
Penyusun
Makalah,
Shinta
setyo widianti
Pembelajaran
Berbasis Kompetensi
Pembelajaran
berbasis kompetensi adalah program pembelajaran di mana hasil belajar atau
kompetensi yang diharapkan dicapai oleh peserta didik, sistem penyampaian, dan
indikator pencapaian hasil belajar dirumuskan secara tertulis sejak perencanaan
dimulai.
Dalam
pembelajaran berbasis kompetensi perlu ditentukan standar minimum kompetensi
yang harus dikuasai peserta didik. Sesuai pendapat tersebut, komponen materi
pembelajaran berbasis kompetensi meliputi: (1) kompetensi yang akan dicapai;
(2) strategi penyampaian untuk mencapai kompetensi; (3) sistem evaluasi atau
penilaian yang digunakan untuk menentukan keberhasilan peserta didik dalam
mencapai kompetensi.
Konsep
pembelajaran berbasis kompetensi menyaratkan dirumuskannya secara jelas
kompetensi yang harus dimiliki atau ditampilkan peserta didik setelah mengikuti
kegiatan pembelajaran. Dengan tolokukur pencapaian kompetensi maka dalam
kegiatan pembelajaran peserta didik akan terhindar dari mempelajari materi yang
tidak perlu yaitu materi yang tidak menunjang tercapainya penguasaan
kompetensi.
Pencapaian setiap kompetensi
tersebut terkait erat dengan sistem pembelajaran. Dengan demikian komponen
minimal pembelajaran berbasis kompetensi adalah:
a. pemilihan dan
perumusan kompetensi yang tepat.
b. spesifikasi
indikator penilaian untuk menentukan pencapaian kompetensi.
c.
pengembangan sistem penyampaian yang fungsional dan relevan dengan kompetensi
dan sistem penilaian.
Penerapan konsep dan prinsip
pembelajaran berbasis kompetensi diharapkan bermanfaat untuk:
a. menghindari duplikasi dalam pemberian
materi pembelajaran yang disampaikan guru harus benar-benar relevan dengan
kompetensi yang ingin dicapai.
b. mengupayakan konsistensi kompetensi
yang ingin dicapai dalam mengajarkan suatu mata pelajaran. Dengan kompetensi
yang telah ditentukan secara tertulis, siapa pun yang mengajarkan mata
pelajaran tertentu tidak akan bergeser atau menyimpang dari kompetensi dan
materi yang telah ditentukan.
c. meningkatkan pembelajaran sesuai
dengan kebutuhan, kecepatan, dan kesempatan peserta didik.
d. membantu mempermudah pelaksanaan
akreditasi. Pelaksanaan akreditasi akan lebih dipermudah dengan menggunakan
tolokukur SK.
e. memperbarui sistem evaluasi dan
pelaporan hasil belajar peserta didik. Dalam pembelajaran berbasis kompetensi,
keberhasilan peserta didik diukur dan dilaporkan berdasar pencapaian kompetensi
atau subkompetensi tertentu, bukan didasarkan atas perbandingan dengan hasil belajar
peserta didik yang lain.
f. memperjelas komunikasi dengan peserta
didik tentang tugas, kegiatan, atau pengalaman belajar yang harus dilakukan dan
cara yang digunakan untuk menentukan keberhasilan belajarnya.
g. meningkatkan akuntabilitas publik.
Kompetensi yang telah disusun, divalidasikan, dan dikomunikasikan kepada
publik, sehingga dapat digunakan untuk mempertanggungjawabkan kegiatan
pembelajaran kepada publik.
h. memperbaiki sistem sertifikasi.
Dengan perumusan kompetensi yang lebih spesifik dan terperinci, sekolah dapat
mengeluarkan sertifikat atau transkrip yang menyatakan jenis dan aspek
kompetensi yang dicapai.
Penentuan Standar Kompetensi Mata
Pelajaran
Perlu
diingat kembali, bahwa kompetensi merupakan kebulatan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap yang dapat didemonstrasikan, ditunjukkan, atau
ditampilkan oleh peserta didik sebagai hasil belajar. Sesuai dengan pengertian
tersebut, maka SK, adalah standar kemampuan yang harus dikuasai peserta didik
untuk menunjukkan bahwa hasil mempelajari mata pelajaran tertentu berupa
penguasaan atas pengetahuan, sikap, dan keterampilan tertentu telah
dicapai.
Langkah-langkah
menganalisis dan mengurutkan SK adalah:
v menganalisis
SK menjadi beberapa KD;
v mengurutkan
KD sesuai dengan keterkaitan baik secara prosedur maupun hierarkis.
membedakan dua pendekatan pokok dalam
analisis dan urutan SK di samping pendekatan yang ketiga yakni gabungan antara
kedua pendekatan pokok tersebut. Dua pendekatan dimaksud adalah pertama
pendekatan prosedural, dan kedua pendekatan hierarkis (berjenjang). Sedangkan
gabungan antara kedua pendekatan tersebut dinamakan pendekatan kombinasi.
Pendekatan
Prosedural
Pendekatan prosedural (procedural
approach) dipakai bila SK yang harus dikuasai berupa serangkaian
langkah-langkah secara urut dalam mengerjakan suatu tugas pembelajaran.
Diagram
umum pendekatan prosedural adalah sebagai berikut :
Contoh dalam pelajaran Ilmu Sosial
Terpadu (IST) ada beberapa SK yang diharapkan dapat dipelajari secara
berurutan. Guru diharapkan dapat menyajikan mana yang akan didahulukan.
Misalnya kompetensi; (1) Mengidentifikasi konsep-konsep yang membangun IST, (2)
Mendeskripsikan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya, dan (3)
Mendeskripsikan perubahan sosial budaya masyarakat. Dari ketiga kompetensi
tersebut, maka kompetensi untuk mengidentifikasi konsep-konsep yang membangun
IST harus paling dahulu dipelajari, setelah itu baru mempelajari dua kompetensi
berikutnya. Di antara kedua kompetensi berikutnya maka penguasaan terhadap
kompetensi mendeskripsikan hubungan timbal balik antara manusia dan
lingkungannya lebih didahulukan agar peserta didik dengan mudah mendeskripsikan
perubahan sosial budaya masyarakat, mengingat perubahan yang terjadi justru
sebagai salah satu akibat hubungan timbal balik antara manusia dengan
lingkungannya. Bila disajikan dalam bentuk diagram dapat dilihat pada Diagram 2
berikut.
Kompetensi 1: Konpetensi
2: Kompetensi 3:
Konsep-konsep hubungan
timbal balik kebudayaan
sosial
Yang membangun antara manusia dan
ITS lingkungan.
Beberapa
hal yang perlu dicatat dari contoh tersebut:
-
peserta didik harus menguasai SK tersebut secara berurutan.
-
Masing-masing SK dapat diajarkan secara terpisah (independent)
- Hasil (output) dari setiap langkah
merupakan masukan (input) untuk langkah berikutnya.
Pendekatan Hierarkis
Pendekatan hierarkis menunjukkan
hubungan yang bersifat subordinatif antara beberapa SK yang ingin dicapai.
Dengan demikian ada yang mendahului dan ada yang kemudian. SK yang mendahului
merupakan prasyarat bagi SK berikutnya.
Untuk mengidentifikasi beberapa SK yang
harus dipelajari lebih dulu agar peserta didik dapat mencapai SK yang lebih
tinggi dilakukan dengan jalan mengajukan pertanyaan "Apakah yang harus
sudah dikuasai oleh peserta didik, agar dengan pengajaran yang seminimal
mungkin dapat diketahui SK yang diperlukan sebelum peserta didik dapat
menguasai SK berikutnya?"
Untuk memperjelas, berikut disajikan
diagram analisis SK menurut pendekatan hierarkis dalam mata pelajaran
matematika.
Diagram
3. Pendekatan Hierarkis
Kompetensi
4:
Kompetensi
3:
Kompetensi
2:
Kompetensi
1:
Melakukan
penjumlahan
Strategi
Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual atau lebih
dikenal dengan CTL (Contextual Teaching and Learning) sebenarnya bukan hal
baru, tetapi CTL dewasa ini sangat ditekankan karena perkembangan dunia kerja
di jaman global yang ditandai dengan persaingan bebas, sehingga sekolah harus
menyusun ulang kurikulumnya untuk menyesuaikan dengan tuntutan global tersebut.
Pada awalnya, CTL lebih banyak digunakan pada sekolah-sekolah kejuruan,
kemudian digunakan di sekolah umum tetapi untuk anak-anak dengan kemampuan
dibawah rata-rata. Kemudian, ketika CTL digunakan untuk belajar
konsep-konsep/akademis, CTL digunakan dalam bentuk watered-down dari
konsep-konsep abstrak yang harus dipelajari dengan sedikit contoh-contoh
penggunaan di dunia nyata. Sekarang CTL digunakan dalam kurikulum, termasuk KBK
yang menegaskan bahwa proses belajar mengajar harus berbasis CTL.
Konsep Dasar Strategi Pembelajaran Kontekstual
Contextual teaching and Learning (CTL)
adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan
siswa secara penuh ntuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan
menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk
dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Ada tiga hal yang harus dipahami.
Pertama CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi,
artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung.
Kedua CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang
dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk
menangkap hubungan antara pengalaman belajar disekolah dengan kehidupan nyata.
Ketiga mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan, artinya CTL
bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan
tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam
kehidupan sehari-hari.
Terdapat
lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan
pendekatan CTL.
1.Pembelajaran
merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge)
2.Pembelajaran
ntuk memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge)
3.Pemahaman
pengetahuan (understanding knowledge)
4.Mempraktikan
pengetrahuan dan pengalaman tersebut (applying knomledge)
5.Melakukan
refleksi (reflecting knowledge)
.
Latar Belakang Filosofi dan Psikologis CTL
1. Latar belakang Filosofis
CTL banyak dipengaruhi oleh filsafat
konstruktivisme yang mulai digagas oleh Mark Baldwin dan selanjutnya
dikembangkan oleh Jean Piaget. Piaget berpendapat, bahwa sejak kecil setiap
anak sudah memiliki struktur kognitif yang kemudian dinamakan “skema”. Skema
terbentuk karena pengalaman, dan proses penyempurnaan skema itu dinamakan
asimilasi dan semakin besar pertumbuhan anak maka skema akan semakin sempurna
yang kemudian disebut dengan proses akomodasi.
Pendapat Piaget tentang bagaimana
sebenarnya pengetahuan itu terbentuk dalam struktur kognitif anak, sangat
berpengaruh terhadap beberapa model pembelajaran, diantaranya model
pembelajaran kontekstual. Menurut pembelajaran kontekstual, pengetahuan itu akan
bermakna manakala ditemukan dan dibangun sendiri oleh siswa.
2. Latar belakang Psikologis
Dipandang dari sudut psikologis, CTL
berpijak pada aliran psikologis kognitif. Menurut aliran ini proses belajar
terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. Belajar bukanlah peristiwa
mekanis seperti keterkaitan stimulus dan respon. Belajar melibatkan proses
mental yang tidak tampak seperti emosi, minat, motivasi, dan kemampuan atau
pengalaman.
Ada
yang perlu dipahami tentang belajar dalam konteks CTL.
1.Belajar
bukanlah menghafal, akan tetapi proses mengkontruksi pengetahuan sesuai dengan
pengalaman yang mereka miliki
2.Belajar
bukan sekedar mengumpulkan fakta yang lepas-lepas.
3.Belajar
adalah proses pemecahan masalah
4.Belajar
adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang dari yang sederhana menuju
yang kompleks
5.Belajar
pada hakikatnya adalah menangkap pengetahuan dari kenyataan.
A. Perbedaan CTL dengan Pembelajaran
Konvensional
Perbedaan
CTL dengan Pembelajaran Konvensional
|
|
CTL
|
Pembelajaran
Konvensional
|
Siswa
sebagai subjek belajar
Siswa
belajar melalui kegiatan kelompok
Pembelajaran
dikaitkan dengan kehidupan nyata
Kemampuan
didasarkan atas pengalaman
Tujuan
akhir kepuasan diri
Prilaku
dibangun atas kesadaran
Pengetahuan
yang dimiliki individu berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya
Siswa
bertanggungjawab dalam memonitor dan mengembangkan pembelajaran
Pembelajaran
bisa terjadi dimana saja
Keberhasilan
pembelajaran dapat diukur dengan berbagai cara
|
Siswa
sebagai objek belajar
Siswa
lebih banyak belajar secara individu
Pembelajaran
bersifat teoritis dan abstrak
Kemampuan
diperoleh dari latihan-latihan
Tujuan
akhir nilai atau angka
Prilaku
dibangun oleh factor dari luar
Pengetahuan
yang dimiliki bersifat absolute dan final, tidak mungkin berkembang.
Guru
penentu jalannya proses pembelajaran
Pembelajaran
terjadi hanya di dalam kelas
Keberhasilan
pembelajaran hanya bisa diukur dengan tes
|
B. Peran Guru dan Siswa dalam CTL
Setiap
siswa mempunyai gaya yang berbeda dalam belajar. Perbedaan yang dimiliki siswa
tersebut dinamakan sebagai unsure modalitas belajar. Menurut Bobbi Deporter ada
tiga tipe gaya belajar siswa, yaitu tive visual, auditorial dan kinestis.
Tipe
visual adalah gaya belajar dengan cara melihat, sedang tipe auditorial adalah
tipe belajar dengan cara menggunakan alat pendengarannya, dan tipe kinestetis
adalah tipe belajar dengan cara bergerak.
Sehubungan
dengan hal itu, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru
manakala menggunakan pendekatan CTL.
1.Siswa
harus dipandang sebagai individu yang sedang berkembang
2.Setiap
anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh tantangan
3.Belajar
bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan atau keterhubungan antara hal-hal
yang baru dengan hal-hal yang sudah diketahui
4.Belajar
bagi anak adalah proses penyempurnaan skema yang telah ada.
C.
Asas-Asas CTL
CTL sebagai suatu pendekatan
pembelajaran memiliki 7 asas. Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses
pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL
1.
Konstruktivisme
Kontruktivisme adalah proses pembangunan
baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menekankan bahwa
pembelajaran tidak semata sekedar menghafal, mengingat pengetahuan. Akan tetapi
merupakan suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara
mental. Membangun pengetahuannya, yang didasari oleh struktur pengetahuan yang
dimilikinya. Menurut kontrutivisme, pengetahuan itu memang berasal dari luar,
akan tetapi dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang. Oleh sebab itu
pengetahuan terbentuk oleh dua faktor penting, yaitu objek yang menjadi bahan
pengamatan dan kemampuan subjek untuk menginterpretasi objek tersebut.
2.
Inkuiri
Inkuiri
adalah proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui
proses berfikir secara sistematis. Proses inkuiri dilakukan dalam beberapa
langkah:
1.Merumuskan masalah
2.Mengajukan hipotesis
3.Mengumpulkan data
4.Menguji hipnotis
berdasarkan data yang ditemukan
5.Membuat kesimpulan
3.
Bertanya (Questioning)
Belajar pada hakikatnya adalah bertanya
dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari
keingintahuan setiap individu; sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan
kemampuan seseorang dalam berfikir.
Dalam
suatu pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk:
a) menggali informasi dan kemampuan siswa
dalam penguasaan materi pelajaran
b) membangkitkan motvasi siswa untuk belajar
c) merangsang keingintahuan siswa terhadap
sesuat
d) memfokuskan siswa pada suatu yang
diinginkan
e) membimbing siswa untuk menemukan atau
menyimpulkan sesuatu
4.
Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep Masyarakat Belajar (Learning
Community) dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui
kerjasama dengan orang lain. Dalam kelas CTL, asas ini dapat dilakukan dengan
menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam
kelompok-kelompok heterogen, baik dilihat dari kemampuan dan kecepatan
belajarnya, maupun dilihat dari bakat dan minatnya.
5.
Pemodelan (Modeling)
Merupakan proses pembelajaran dengan
memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa.
Membahasakan yang ada dalam pemikiran adalah salah satu bentuk dari pemodelan.
Jelasnya pemodelan adalah membahasakan yang dipikirkan, memdemonstrasi
bagaimana guru menghendaki siswanya untuk belajar dan melakukan sesuatu. Dalam
pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model bisa dirancang
dengan melibatkan siswa atau bisa juga mendatangkan dari luar.
6.
Refleksi (Reflection)
Merupakan proses pengendapan pengalaman
yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali
kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilalui. Refleksi
merupakan cara berpikir atu merespon tentang apa yang baru dipelajari. Berpikir
ke belakang tentang apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. Praktek dalam
pembelajarannya adalah guru menyiapkan waktu sejenak agar siswa dapat melakukan
refleksi yang berupa pernyataan langsung tentang apa yang sudah diperoleh pada
hari itu.
7.
Penilaian Nyata (Authentic Assessment)
Adalah proses yang dilakukan guru untuk
mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa.
Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa member gambaran
mengenai perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran berbasis CTL, gambaran
perkembangan belajar siswa perlu diketahui guru, agar siswa dapat memastikan
bahwa siswa mengalami pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada
penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual. Evaluasi dilakukan terhadap
proses maupun hasil.
D.
Pola dan Tahapan Pembelajaran CTL
a. Pola Pembelajaran Konvensional
Untuk mencapai tujuan
kompetensi, guru menerapkan strategi pembelajaran sebagai berikut:
•Siswa disuruh untuk
membaca buku tentang pasar
•Guru menyampaikan
materi pelajaran
•Guru memberikan
kesempatan pada siswa untk bertanya
•Guru mengulas
pokok-pokok materi pelajaran yang telah
disampaikan dan dilanjutkan dengan kesimpulan
•Guru melakukan
post-tes
•Guru menugaskan kepada
siswa untuk membuat karangan sesuai dengan tema “pasar”
Model pembelajaran
diatas jelas bahwa sepenhnya ada pada kendali guru.
b.Pola
Pembelajaran CTL
Untuk
mencapai tujuan kompetensi, guru menerapkan strategi pembelajaran sebagai
berikut:
1.Pendahuluan
2.Inti
3.Penutup
Pada CTL untuk mendapatkan kemampuan
pemahaman konsep, anak mengalami langsung dalam kehidupan nyata di masyarakat.
Kelas bukanlah tempat untuk mencatat atau menerima informasi dari guru, akan
tetapi kelas digunakan untuk saling membelajarkan.
Kesimpulan
Untuk
itu ada beberapa catatan dalam penerapan CTL sebagai suatu strategi
pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
1.CTL adalah model
pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik fisik
maupun mental.
2.CTL memandang bahwa
belajar bukan menghafal, akan tetapi proses berpengalaman dalam kehidupan
nyata.
3.Kelas dalam
pembelajaran CTL bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi, akan tetapi
sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan. Materi
pelajaran ditemukan oleh siswa sendiri, bukan hasil pemberian dari orang lain.
Saran
Untuk menyempurnakan makalah ini, penulis mengharapkan
kritik dan saran dari pembaca atau pihak yang menggunakan makalah ini.
Berpegang pada prinsip tidak ada gading yang tidak retak dan tidak ada final
dalam ilmu. Dengan kerendahan hati penulis menyadari masih banyak kekurangan
dalam makalah ini, dengan senang hati kritik dan saran dan pandangan dari
berbagai pihak untuk menyempurnakan makalah ini. Atas perhatiannya kami ucapkan
terimakasih.
Pertanyaan dari Hasil
Presentasi !
Nama Nim Pertanyaan
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|